Budidaya Jamur Merang

PENDAHULUAN

Jamur merang (Volvariella volvacea) merupakan tumbuhan saprofit artinya memperoleh bahan makanan dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan organic. Jamur merang termasuk tumbuhan yang tidak berklorofil (tidak memiliki zat hijau daun) sehingga tidak bisa mengolah bahan makanan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, jamur merang sangat tergantung pada bahan organic (kompos) dan bantuan enzim yang diproduksi oleh miselium (benang-benang putih seperti sarang laba-laba). Senyawa-senyawa organic yang ada pada kompos diserap untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangannya.


Pertumbuhan jamur sangat tergantung pada faktor fisik lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya, pH media tanam, dan aerasi udara. Jamur merang akan tumbuh optimal pada kisaran suhu 35-38oC, kelembaban udara 85-95% dan pH media jamur antara 7-8. Aerasi adalah pertukaran udara lingkungan tumbuh jamur, yaitu dengan mempertahankan persediaan oksigen (O2) dan membuang karbondioksida (CO2). Cahaya matahari yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur 9 jam perhari.
Kondisi di setiap lokasi sangat berbeda tergantung kebiasaan petani setempat dalam membudidayakan jamur, namun yang paling penting perlu dikuasai adalah teknik dan metode dalam pengaturan iklim mikro di dalam rumah jamur (kubung). Keadaan iklim makro suatu daerah juga akan berpengaruh pada perlakuan dan aktifitas dalam budidaya jamur. Rekayasa lingkungan juga dapat dilakukan dalam budidaya jamur, dengan memperhatikan kondisi iklim mikro yang diperlukan dan digabungkan dengan keahlian/pengalaman petani.

Bekerja dalam budidaya jamur adalah bekerja dengan system dan pendekatan mikrobiologi. Karena itu pemahaman dan keahlian dalam pengelolaan mikrobiologi sangat diperlukan, di samping butuh kecermatan, ketelitian, sanitasi lingkungan dan tahap kegiatan yang baku.
Dalam budidaya jamur merang biasanya menggunakan merang padi sebagai media tanam tetapi didalam sop ini kami khususkan untuk budidaya jamur dengan mengunakan media tanam alternative yaitu limbah pabrik tepung aren.


TARGET BUDIDAYA JAMUR


Target yang akan dicapai dalam penerapan SOP jamur merang ini adalah :
1.    Tercapainya produksi optimal, target produksi yang harus dicapai dalam 1 kubung jamur merang minimal 250 kg (1 kubung = 1 ton substrata tau 1 – 2,5 kg/m2 substrat);
2.    Target mutu produksi jamur merang sesuai dengan standar mutu yang diminati pasar antara lain tubuh buah jamur berwarna, berbentuk, dan berukuran seragam sesuai dengan deskripsi varietas;
3.    Produk yang dihasilkan aman konsumsi dengan kualitas baik;
4.    Usaha budidaya jamur merang ramah lingkungan;
5.    Target pengerjaan budidaya secara benar sesuai dengan GAP;

KEGIATAN
Untuk mencapai target yang telah ditetapkan, diperlukan beberapa kegiatan yang meliputi: Pemilihan Lokasi, Pembuatan Kubung, Pembuatan Media Tanam, Persiapan Tanam, Pasteurisasi/Penyetiman Kubung, Penanaman Benih, Pemeliharaan, Pengendalian hama dan  penyakit, Panen, Pembongkaran Media Tanam dan Pengolahan Media Tanaman Pasca Tanam Jamur.


I.    PEMILIHAN LOKASI


A.    Definisi Dan Tujuan
Memilih dan menentukan lokasi tanam yang sesuai dengan persyaratan tumbuh jamur merang. Tujuannya untuk mendapatkan lokasi yang sesuai dengan persyaratan usaha tani jamur merang dengan media aren.

B.    Informasi Pokok.
1.    Ketinggian tempat +0 – 300 m dpl.
2.    Lahan produksi diusahakan dekat dengan sumber bahan baku media tanam.
3.    Terdapat sarana jalan untuk mempermudah transportasi.
4.    Terdapat sumber air dan selalu tersedia. (air tanah atau air permukaan yang memenuhi syarat).

C.    Alat dan Fungsi
1.    Altimeter untuk mengukur ketinggian tempat.
2.    Termometer untuk mengukur suhu udara di lokasi.
3.    Hygrometer untuk mengukur kelembaban udara.
4.    Anemometer untuk mengukur arah dan kecepatan angin.
5.    pH meter atau kertas lakmus untuk mengukur tingkat kemasaman sumber air.

D.    Prosedur Pelaksanaan

a.    Ukur ketinggian tempat dengan menggunakan altimeter.
b.    Ukur suhu udara dengan menggunakan termometer.
c.    Amati kondisi lapangan setempat dengan mengacu kepada informasi data dinas setempat.
d.    Dilakukan penyediaan sumber air tanah.




II. PEMBUATAN KUBUNG

A.    Definisi dan Tujuan
Kubung adalah bangunan tempat tumbuhnya jamur merang yang terbuat dari bilik bamb, kayu, batu bata, plastic, stereofoam atau bahan lainnnya.Di dalamnya tersusun rak- rak tempat media tanam untuk tumbuhnya jamur merang.

B.    Informasi Pokok
1.    Kubung terdiri dari kubung dalam dan kubung luar.Kubung dalam berfungsi sebagai tempat tumbuh jamur.Kubung luar berfungsi untuk melindungi kubung dalam dari cahaya, angin, hujan, dan gangguan hama.
2.    Kubung dalam berbentuk kubah, terbangun dari plastik yang disangga oleh bambu atau kayu. Kubung luar sebagai pelindung kubung dalam terbuat dari bilik bambu, stereofoam, atau bahan lain.
3.    Kubung dalam dilengkapi dengan jendela mengatur udara yang dapat dibuka dan ditutup
4.    Persyaratan kubung dalam :
a.    Ukuran kubung dalam (p x l x t) disesuaikan dengan kapasitas bahan baku. Untuk kapasitas bahan baku 1 – 1,2 ton media tanam, memerlukan kubung dalam dengan ukuran : panjang 6 m, lebar 4 m, tinggi 4,5 m.
b.    Tata letak rak dibagi dua baris, masing- masing baris terdiri dari 4 tingkat.
c.    Ukuran rak : panjang 6m, lebar 80cm
d.    Jarak rak terbawah (rak no.1) dengan tanah 60 cm. Sedangkan jarak antar rak diatasnya 80cm, 80cm, 80cm,dan 80cm.
e.    Atap dan dinding terbuat dari bahan plastic PE (Poly Ethylen).
f.    Bangunan kubung dalam ini harus dilindungi atau dilapisi dengan bangunan kubung luar.
5   Persyaratan kubung luar
a.    Ukuran kubung bagian luar panjang 8m, lebar 5m, dan tinggi 5m.
b.    Bangunan kubung bagian luar berdinding bilik bamboo, stereofoam atau bahan lain yang dapat menahan panas matahari dan angin.

C.    Alat, Bahan dan Fungsi
1.    Bambu yang telah mengalami proses pengawetan (direndam air atau dicat kapur) sebanyak 150 batang untuk kubung dalam dan 50 batang untuk kubung luar. Bambu berfungsi untuk membuat kerangka bangunan kubung dalam, kubung luar dan pembuatan rak-rak tempat media tumbuh.
2.    Plastik PE (Poly Ethylene) ukuran 0.012 u sebanyak 20 kg, untuk dinding dan atap kubung dalam.
3.    Bilik bambu 3x2,5 m, sebanyak 20 lembar, untuk dinding luar dan atap kubung luar.
4.    Paku untuk menguatkan antara bambu satu dengan bambu lainnya.
5.    Tambang plastic untuk mengikat dan menguatkan rangka bambu.
6.    Semen, batu bata merah dan pasir untuk tatakan/alas tiang rangka..
7.    Alat pertukangan lain seperti gergaji, palu/martil, golok, meteran, dsb.

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Pembuatan Kubung Dalam
a.    Siapkan tempat dan bahan-bahan untuk membuat kubung dalam.
b.    Pilih bambu yang lurus dan potong sebanyak 36 buah sebagai tiang, 24 buah sebagai waton/bambu penguat tepi-tepi rak, 36 buah sebagai penyangga, 260 buah untuk reng, dan 12 buah sebagai kuda-kuda.
c.    Setelah semua bambu dipotong sesuai dengan ukuran, rakitlah rangkaiaan rangka kubung dalam sebanyak enam set dan tiap set terdiri dari empat buah tiang.
d.    Setelah semua set rangka kubung dalam tersebut terakit dengan baik, kemudian dirikanlah sate per sate tiangnya dengan jarak antar rangkaian 12m.
e.    Pasang tiang, waton, penyangga, kuda-kuda, dan rak-rak.
f.    Pasang plastic untuk dinding dan atap kubung.
2.    Pembuatan Kubung Luar
a.    Siapkan semua bahan-bahan untuk membuat kubung bagian luar.
b.    Ukur dan potong bambu tersebut sesuai rencana ukuran kubung bagian luar.
c.    Buat kerangka kubung bagian luar sesuai ukuran
d.    Kuatkan masing-masing sambungan dengan paku dan tali
e.    Pasang bilik bambu sebagai dinding dan atap kubung bagian luar

III. PEMBUATAN MEDIA TANAM

A.    Alat dan Bahan
1.    Kompos Limbah Aren (LA) adalah VOLVAC AREN
a.    Limbah Aren kering 1 truk
b.    Kapur 20kg (2% dari bobot jerami)
c.    Dedak 200kg
d.    Kapas 150kg
e.    Air
f.    Pupuk cair TOP G2
2.    Kompos penutup
a.    Kapur 5kg
b.    Dedak
c.    Kapas 100kg
d.    Air secukupnya
e.    Garpu 1 buah
f.    Ember 2 buah
g.    Plastik lebar 250 cm, panjang minimal 3 m

B.    Fungsi
1.    Limbah Aren sebagai bahan baku untuk media tanam
2.    Kapur untuk meningkatkan pH media tanam sehaingga memperlancar proses fermentasi
3.    Dedak sebagai sumber makanan tambahan bagi pertumbuhan jamur dan mempercepat proses pembusukan/fermentasi pada kompos penutup
4.    Plastik untuk menutup campuran bahan-bahan selama proses pengomposan
5.    Kapas untuk menjaga kelembaban kompos karena bersifat menyerap air (tidak cepat kering) dan merupakan bahan seluluse 90% yang dibutuhkan oleh pertumbuhan jamur

PERSIAPAN TANAM

A.    Definisi dan Tujuan
          Persiapan tanam terdiri dari dua kegiatan yaitu pengisisan kompos LA ke dalam kubung dan memasukkan kompos penutup/lapisan kompos atas ke dalam kubung      Tujuan pengisian kompos LA adalah  menyediakan media tumbuh bagi pertumbuhan jamur merang, sedangkan tujuan memasukkan kompos penutup adalah memberikan nutrisi/unsur  hara tambahan bagi pertumbuhan jamur merang sekaligus merekatkan permukaan kompos Limbah Aren (LA) sehingga miselium hanya tumbuh di permukaan media tanam.

B.     Informasi Pokok
1.    Pengisian kompos Limbah Aren (LA) ke dalam kubung
a.    Kegiatan memindahkan kompos LA yang sudah jadi ke rak-rak penanaman di dalam kibung
b.    Kompos LA sudah berumur 6 hari dari pembalikkan
2.    Memasukkan kompos penutup ke dalam kubung
a.    Kegiatan menaburkan kompos lapisan atas diatas permukaan media tanam/kompos LA di dalam kubung
b.    Minimal kompos sudah berumur 14 hari dari pengomposan awal
c.    Atau kompos penutup/lapisan atas  sudah lapuk

C.    Alat , Bahan, dan Fungsi
1.    Kompos LA yang sudah jadi berfungsi sebagai media tanam jamur merang.
2.    Garu untuk membongkar tumpukan kompos LA.
3.    Pengki sebagai tempat/wadah untuk memindahkan kompos LA ke dalam kubung.
4.    Plastik/terpal bersih untuk alas lantai di dalam kubung untuk menampung ceceran kompos LA yang akan dipindahkan ke atas rak-rak.
5.    Kompos penutup yang sudah jadi adalah bahan organik yang akan melapisi permukaan atas kompos LA
6.    Ember untuk wadah kompos penutup yang akan ditaburkan
7.    Cangkul untuk memindahkan kompos penutup ke dalam ember


D.    Prosedur Pelaksanaan

1.    Pengisian kompos LA ke dalam lubung

a.    Pasang lembaran plastik/terpal di sepanjang jalan di dalam lubung
b.    Buka penutup tumpukan kompos
c.    Bongkar kompos LA sedikit demi sedikit sambil diurai supaya LA tidak menggumpal
d.    Dengan menggunakan pengki, angkut kompos LA ke dalam kubung
e.    Isi rak yang paling atas terlebih dahulu, disusul rak di bawahnya
f.    Atur kompos LA di atas rak-rak membentuk 2 guludan atau bedengan mengikuti panjang rak
g.    Tinggi guludan pada rak pertama dan kedua antara 40 – 50 cm, sedang rak di atasnya kurang lebih 30 – 40 cm
h.    Kompos diatur sambil diurai dan tidak dipadatkan agar sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik

2.    Memasukkan kompos penutup ke dalam kubung

a.    Dengan menggunakan cangkul, kompos pennutup dimasukkan ke dalam ember
b.    Hancurkan gumpalan-gumpalan kompos hingga halus
c.    Taburkan satu hari setelah pemasukan kompos LA
d.    Tebarkan kompos penutup di atas kompos LA secara merata sedikit demi sedikit dengan tebal 0,5 cm
e.    Penaburan dimulai dari bagian dalam guludan
f.    Pada saat menebarkan kompos di bagian pinggir rak, ember diletakkan pada kolong rak untuk menampung kompos sehingga tidak banyak jatuh ke tanah



IV. PASTEURISASI / STEAM KUBUNG

A.    Definisi dan Tujuan
Pasteurisasi adalah proses pemanasan ruang dan media tanam jamur merang di dalam kubung sampai suhu sekitar 62⁰C – 65⁰C menggunakan uap air selama 5 s/d 8 jam dengan tujuan menciptakan kondisi ruangan dalam kubung dan media tanam bebas dari spora cendawan liar dan mikroorganisme pengganggu lainnya.

B.    Informasi Pokok
1.    Sebelum dipasteurisasi, semua media tanam sudah ditata rapi
2.    Kondisi kubung dalam keadaan tertutup rapat/tidak ada yang bocor/bolong

C.    Alat, Bahan dan Fungsi
1.    Kayu bakar dengan tungku berfungsi untuk memanaskan air di dalam drum
2.    Drum bekas 3 buah sebagai tempat merebus air
3.    Air 100 liter per drum untuk menghasilkan uap panas
4.    Kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memanaskan air
5.    Bambu sebagai selang untuk menyalurkan uap air ke dalam kubung
6.    Termometer untuk mengontrol suhu udara dalam kubung selama proses pasteurisasi
7.    Ember untuk wadah bibit pada saat penanaman
8.    Plastik sebagai alas pada saat menyiapkan bibit sebelum di tanam

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Bersihkan lantai dan seluruh bagian dalam kubung dalam kondisi tanah basah, supaya tanah tidak kering dan retak-retak pada saat pasteurisasi
2.    Pastikan semua dinding dan atap plastikkubung tidak ada yang sobek dan bocor
3.    Masukkan alat-alat bantu penanaman bibit berupa ember, plastik atau karung bekas ke dalam kubung untuk disterilkan sebelum dipakai.
4.    Tutup pintu dan jendela, kunci dengan paku.
5.    Susun 3 buah drum berisi air secara berderet di luar dekat dinding kubung. Pasang batu bata sebagai penghantar panas di bagian bawah drum ( celah di antara 2 buah drum).
6.    Pasang blower di celah bawah antara 2 drum.
7.    Lindungi steamer dari air hujan atau angin.
8.    Buat lubang di dinding untuk memasang thermometer.
9.    Setelah semua peralatan terpasang, nyalakan semawar dan usahakan nyala api biru.
10.    Arahkan spuyer sehingga api yang keluar menyentuh susunan batu bata yang ada di bawah drum.
11.    Cek kembali semua dinding kubung bagian dalam untuk memastikan tidak ada yang robek /lubang atau bocor setelah uap masuk ke dalam kubung.
12.    Pasteurisasi berjalan sempurna apabila tercapai suhu 62⁰C pada 4 jam pertama dan suhu 70⁰C pada 4 jam berikutnya.
13.    Apabila suhu di atas tidak dicapai, hentikan proses pasteurisasi dan ulangi keesokan harinya hingga dicapai suhu minimal 70⁰C.



V. PENANAMAN BENIH

A.    Definisi dan Tujuan
Penanaman benih adalah penebaran benih pada media tanam yang sudah dipasteurisasi. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan benih jamur merang hingga berproduksi.

B.    Informasi pokok
1.    Benih dikemas dalam kantong plastic/bag log
2.    Tenaga kerja yang akan menanam benih harus bersih sterill
3.    Kubung sudah dalam keadaan suhu 37°c

C.    Alat, bahan, dan fungsi
1.    Benih jamur merang sebagai bahan tanaman
2.    Alkohol 70 % untuk menstrerilkan tangan
3.    Ember bersih yang telah dipasteurisasi untuk mengangkut benih yang ditanam ke media tanam
4.    Plastik bersih yang telah dipasteurisasi untuk alas pada saat membuka kantong pembungkus bibit, sehingga tidak tercecer di tanah.

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Pesan benih 15 hari sebelum tanggal penanaman. Ini dimaksudkan agar diperoleh bibit jamur merang yang memiliki umur optimum untuk ditanam.
2.    Pinih benih yang tidak terkontaminasi. Benih yang sehat akan memiliki warna kuning gambir pada permukaan atas log.
3.    Pekerja yang akan melakukan penanaman harus dalam kondisi bersih. Tangan dicuci dengan alcohol 70 %.
4.    Penanaman  dilakukan 1 hari setelah pasteurisasi, pada waktu sore hari (di atas pukul 15.30), pada saat itu suhu udara dalam kubung sekitar 37⁰C.
5.    Jendela dan pintu kubung harus dibuka 30 menit sebelum penanaman,tujuannya untuk mengeluarkan gas amoniak yang terbentuk selama pasteurisasi.
6.    Benih diuraikan di dalam kubung atau tempat steril lainnya dengan syarat pada saat dibawa bibit tidak terkena sinar matahari langsung. Alasi  dengan alas plastik yang sudah disterilkan.
7.    Tempatkan bibit dalam ember yang bersih dan sudah dipasteurisasi.
8.    Tebarkan bibit secara merata diatas media tanam, dimulai dari rak paling atas  kemudian disusul rak dibawahnya.
9.    Pada bagian pinggir rak yang berdekatan dengan dinding plastik bibit ditaburkan lebih banyak. Karena pada bagian ini pasokan cahaya lebih memadai sehingga memiliki potensi tumbuh lebih tinggi.
10.    Lakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan media tanam sudah tertanami bibit keseluruhan.
11.    Jika lantai kubung terlihat kering, siram dengan air untuk menjaga kelembaban udara di dalam kubung.
12.    Tutup rapat pintu dan jendela kubung, kuatkan dengan paku dan biarkan selama 3 – 5 hari.



VI. PEMELIHARAAN

V.I  Penyiraman
A.    Definisi dan tujuan
Kegiatan pemberian air bersih kepada media tumbuh jamur, ruangan, dan dinding, serta lantai kubung. Tujuannya adalah untuk menyediakan kebutuhan air bagi pertumbuhan tubuh buah jamur merang sekaligus mempertahankan suhu dan kelembaban udara ruangan dalam kubung serta media tanam agar dapat optimal untuk tumbuhnya jamur. Suhu yang diinginkan untuk pertumbuhan jamur adalah 30 – 32⁰C dengan kelembaban udara 95 – 98 %, pada saat pengkabutan air di dalam kubung tambahkan pupuk cair organic TOP G2.

B.    Informasi Pokok

           Penyiraman dilakukan apabila :
1.    Media tumbuh terasa kering /kasar bila diraba.
2.    Kelembaban udara dalam kubung kering

C.     Alat dan fungsi
1.    Air bersih (pergunakan air sumur), untuk menyemprot media tanam dan ruangan di dalam kubung.
2.    Sprayer kapasitas 12 liter sebagai alat untuk menyemprot media tanam dan ruangan dalam kubung.
3.    Termometer untuk mengetahui/mengontrol suhu udara dalam kubung, pastikan suhu pada posisi 30 s/d 32°C
4.    Hygrometer untuk mengetahui/mengontrol kelembaban udara dalam kubung, pastikan kelembaban 85 s/d 95%

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Penyiraman dilakukan untuk mempertahankan kondisi lingkungan tumbuh jamur merang.
2.    Dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam (miselium sudah terlihat putihmemenuhi permukaan media tanam), pada pagi hari sekitar pukul 10.00 ( di saat matahari mulai terik)
3.    Kebutuhan air untuk penyiraman pada musim kemarau sebanyak 6 – 7 tangki sprayer.
4.    Penyemprotan selanjutnya dilakukan tergantung kondisi di dalam kubung. Dengan volume air tidak lebih dari 2 tangki sprayer, dengan selang waktu 1 hari.
5.    Waktu penyemprotan pada sore hari, setelah pukul 16.00.
6.    Indikator yang menunjukkan bahwa sudah waktunya dilakukan penyemprotan dapat dilihat pada termometerdan hygrometer, yaitu apabila suhu lebih dari 38⁰C, dan kelembaban kuranng dari 95 %.
7.    Indikator lain dapat dilihat secara visual, yaitu apabila bambu penyangga rak (waton) mongering dan kondisi permukaan kompos yang terasa tajam bila diraba.
8.    Indikator secara visual yang menunjukkan suhu udara dalam kumbung pada kisaran 35⁰C yaitu terlihat adanya asap/uap lembut yang mengepul dari media tanam pada pagi hari.
9.    Indikasi kubung kelebihan kelembaban udara adalah terlihat dengan banyaknya  terdapat butiran air coklat seperti kecap pada media tanam yang menggantung pada kolong rak, khususnya rak nomor 5 dan 6.
10.    Bagian yang disemprot adalah bagian depan rak nomor 1 dan 2. Sedang rak nomor 3, 4 dan 5 disemprot pada bagian tengah.
11.    Bila kondisi di luar kubung sangat panas, maka dinding plastik kubbung disemprot air sebanyak 1 tangki sprayer (12 liter), namun tidak dilakukan penyiraman pada permukaan media tanam.
12.    Penyeprotan air dilakukan pada lantai tengah di dalam kubung. Jika lantai terbuat dari tanah, penyiraman dilakukan dua hari sekali sebanyak 4 ember (@ 10 liter). Jika lantai terbuat dari batu bata, maka penyiraman dilakukan setiap hari sebanyak 8 ember (@ 10 liter).
13.    Dinding luar kubung juga perlu disiram untuk menyejukan udara di sekitar kubung. Dengan volume penyiraman sebanyak 25 ember (@ 10 liter).
14.    Pada musim penghujan, penyemprotan pada stadia generative (masa produktif) dilakukan 2 hari sekali, tergantung suhu dan kelembaban udara yang dicapai. Maksimal 3 hari sudah harus disiram, meskipun kondisi di luar hujan.
15.    Pada musim penghujan penyemprotan dapat dilakukan dengan air hangat (2 bagian air panas, dan 3 bagian air dingin).
16.    Jika pertumbuhan miselium sangat lambat, maka penyemprotan dapat ditambah gula pasir  sebanyak ¼ kg per 1 tangki sprayer (12 liter). Penyemprotan maksimal 2 tangki (24 liter).

VI.II     Pengaturan Pintu dan Jendela Kubung

A.    Definisi dan Tujuan
Pengaturan pintu dan jendela adalah kegiatan membuka dan menutup pintu dan jendela kubung pada saat dibutuhkan, dengan tujuan untuk mengatur suhu dan kelembaban udara dalam kubung agar tetap sesuai dengan persyaratan tumbuh jamur, sehingga jamur tumbuh secara optimal.

B.    Informasi pokok
Pengaturan pintu dan jendelakubung dilakukan bila :
1.    Temperatur dan kelembaban udara dalam kubung tinggi.
2.    Keadaan media tumbuh dalam kubung terlalu lembab.

C.    Alat dan Fungsi
Tali tambang plastik yang berfungsi untuk menyangga jendela sewaktudi buka. Air bersih (pergunakan air sumur), untuk menyemprot media tanam dan ruangan di dalam kubung.

D.    Prosedur pelaksanaan
1.    Pintu dan jendela haerus dibuka 30 menit sebelum dilakukan penyemprotan.
2.    Pada waktu penyemprotan pertama selesai,jendela kubung dibuka hingga pukul 17.00, sedangkan pintu langsung ditutup. Bila penyemprotan pertama dilakukan pada pukul 17.00(karena cuaca mendung) maka jendela ditutup 6 jam kemudian, yaitu jam 11 malam.
3.    Miselium jamur merang tumbuh di ujung-ujung kompos yang menggantung pada umur 6 - 7 hari setelah tanam. Maka pada saat itu jendela dapat dibuka terus dengan posisi pembukaan jendela 45⁰.
4.    Pada masa panen di musim penghujan (umur 10 hari dan seterusnya). Jendela terus dibuka dengan posisi pembukaan jendela 90⁰. Dan pada musim kemarau,pembukaan jendela harus memperhatikan arah angin. Pembukaan jendela kurang dari 90⁰. (Agar angin tidak terlalu banyak masuk).
5.    Apabila dijumpai butiran air berwarna coklat yang menggantung pada kolong rak ke 5, Maka jendela pinggir dapat dibuka dengan posisi pembukaan jendela 45⁰.Hal ini biasanya terjadi pada musim penghujan.
6.    Indikator lain dilakukan pembukaan jendela adalah jika terdapat embun yang menempel pada plastik jendela bagian dalam kubung. Jendela ditutup kembali bila sudah terlihat kering atau jika pertumbuhan miselium terlihat kasar.


VI.III     Steam Pemeliharaan

A.    Definisi dan tujuan
Pemanasan ruang dalam kubung dengan cara memasukkan uap air dari drum melalui slang bambu dengan tujuan menaikkan suhu udara di dalam ruang kubung ketika suhu mencapai di bawah 30⁰C dan pertumbuhan jamur menurun. Steam pemeliharaan lebih baik dilakukan pada saat suhukubung di bawah 32⁰C.

B.    Informasi Pokok

Persyaratan :
1.    Perlu dilakukan steam ulang bila miselium sulit tumbuh.
2.    Media tumbuh dalam keadaan dingin.

C.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Drum kecil sebagai tempat untuk memanaskan air
2.    Air sebanyak 50 liter untuk dipanaskan dan di ambil uapnya
3.    Minyak tanah 5 liter untuk bahan bakar
4.    Blower sebagai kompor untuk memanaskan drum beserta air
5.    Bambu sebagai selang untuk menyalurkan uap air dari drum ke dalam ruang kubung
6.    Tali karet untuk mengikat belahan bambu
7.    Golok untuk membelah bambu menjadi 2 memanjang
8.    Termometer sebagai alat untuk mengukur suhu udara di dalam kubung


D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Siapkan tempat pemanasan seperti ketika melakukan sterilisasi kubung pertama kali.
2.    Pastikan semua jendela tertutup dan tidak ada dinding plastik yang  terlubang.
3.    Belah bambu yang memanjang dengan menggunakan golok, buang buku-buku di dalamnya.
4.    Rapatkan kembali dan diikat dengan karet.
5.    Sambung salah satu ujung bambu ke drum,rapatkan supaya tidak bocor.
6.    Badan bambu dimasukkan ke dalam kubung melalui pintu.
7.    Isi drum sebanyak 50 liter air.
8.    Nyalakan blower dan panaskan drum.Uap air yang terbentuk akan masuk ke dalam kubung melalui slang bambu dan keluar di sepajang celah-celah bambu, sehingga memenuhi seluruh ruang dalam kubung.
9.    Biasanya Pemanasan ini berlangsung selama 1 jam, dan suhu akan menjadi 36⁰C.
10.    Setelah selesai, pintu langsung ditutup. Sedangkan jendela atas dibuka untuk membuang kelebihan uap air.
11.    Steam pemeliharaan ini sebaiknya dilakukan malam hari (pukul 18.30).


 
VII. PENGENDALIAN HAMA / PENYAKIT


A.    Definisi dan Tujuan

    Kegiatan yang dilakukan untuk mengkondisikanlingkungan tumbuh jamur yang bebas dari organisme pengganggu dengan tujuan untuk menghindari kerusakan dan kegagalan panen yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit/jamur pengganggu.

B.    Informasi Pokok

Persyaratan :
1.    Steam dilakukan selama 12-16 jam
2.    Media tanam tidak terlalu padat (terurai secara merata)

C.    Alat, Bahan dan Fungsi
    Seng atau bahan lain sebagai pelindung bangunan agar tikus tidak naik ke dalam kubung.

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Hama yang sering menyerang jamur merang adalah  tikus. Pengendalian dapat menggunakan seng sebagai pembatas bangunan bagian bawah agar tikus tidak naik ke kubung.
2.    Dapat juga menggunakan strum listrik yaitu dengan cara memasang kabel/kawat di sekeliling kubung yang dihubungkan dengan aliran listrik pada waktu malam hari.
3.    Untuk menghindari kecelakaan sengatan listrik, maka beri pagar pembatas berjark kira-kira 50 cm dari dinding kubung dan beri tanda peringatan.
4.    Jamur competitor yang sering mengganggu adalah jamur Monelia sp (jamur oncom). Jamur ini akan muncul apabila suhu kubung diatas 39⁰C atau suhu media tanam/kompos mencapai 41⁰C atau kompos yang terlalu masak juga akan meningkatkan resiko serangan jamur Monelia sp. Biasanya penyakit jamur oncom dimulai pada bagian kolong rak ke tiga ke atas.
 5.    Pencegahan/penanggalangan dilakukan dengan mengontrol kubung secara rutin setiap malam, karena pertumbuhan jamur monelia ini sangat cepat, dalam waktu 1 malam dapat memenuhi seluruh permukaan media tanam dengan warna putih.
6.    Segara buka jendela kubung secara penuh, jika perlu dipasang exhaust fan di atas pintu. 
7.    Bongkar seluruh media tanam yang terserang dan secara hati-hati dibuang jauh-jauh dari kubung, untuk mengurangi penyebaran sporanya.
8.    Jamur pengganggu lainnya adalah jamur Coprinus. Dapat kendalikan dengan cara eradikasi, dicabut/dipotong dengan gunting/pisau.
9.    Serangan pengganggu lain seperti rayap menyerang bangunan kubung. Untuk mengendalikan rayap yang bersarang di tanah atau kubung gunakan pestisida seperti Cypermetun (Cyperator), Permethrim (Imperator), Fenvaleralc.
10.    Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencegah munculnya organisme pengganggu antara lain :
a.    Menggunakan bahan baku media yang berkualitas baik
b.    Substart tidak terlalu basah/kering
c.    Peralatan yang digunakan harus bersih
d.    Membuang jamur yang tidak diinginkan
e.    Pemanenan dilakukan dengan tangan dan peralatan yang steril (gunakan alkohol untuk mencuci tangan sebelum memanen).


VIII. PANEN

A.    Definisi dan Tujuan
    Kegiatan memetik jamur merang yang telah cukup umur untuk mendapatkan hasil jamur merang yang sesuai dengan ketentuan.

B.    Informasi Pokok
1.    Jamur merang siap petik pada hari ke 8 – 10 setelah penaburan bibit.
2.    Jamur yang disukai konsumen adalah yang belum mekar, dengan ukuran sebesar telur puyuh hingga sebesar telur ayam.

C.    Alat, Bahan dan Fungsi
1.    Keranjang/rinjing untuk menempatkan hasil jamur yang telah dipanen.
2.    Pisau yang tajam untuk membersihkan/memotong pangkal jamur dari sisa media tanam yang terbawa.
3.    Alkohol untuk mencuci tangan dan pisau.

D.    Prosedur Pelaksanaan

1.    Sebelum melakukan pemetikan, cuci tangan dengan menggunakan larutan alkohol 70 %.
2.    Pemetikan dilakukan dengan memutus bagian pangkal tubuh buah jamur dengan menggunakan ujung ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah.
3.    Usahakan tidak merusak media tanam di sekitar jamur.
4.    Pangkal jamur dibersihkan untuk membuang sisa media tanam yang terbawa, menggunakan pisau tajam.
5.    Hasil panen jamur merang ditempatkan di keranjang yang bersih.

E.    Keterangan
1.    Setelah 3 – 4 kali panen I, bedengan akan mengalami istirahat selama 4 – 6 hari. Kemudian akan mulai lagi  masa panen kedua dan seterusnya.
2.    Masa panen keseluruhan rata-rata 20 hari dengan total hasil sekarang 300 – 400 kg.


IX. PASCA PANEN SEGAR

A.    Definisi dan Tujuan
    Kegiatan sortasi, penimbangan dan pengemasan jamur merang hasil panen. Kegiatan      ini bertujuan enghasilkan jamur merang yang siap dijual ke konsumen.

B.    Alat, Bahan, dan Fungsi
1.    Tampah untuk menempatkan hasil jamur yang telah di panen.
2.    Pisau yang tajam untuk membersihkan/memotong pangkal jamur dari sisa media tanam yang terbawa.
3.    Kuas bersih untuk membersihkan permukaan jamur dari kotoran.
4.    Timbangan untuk menimbang jamur merang.
5.    Waring untuk kemasan jamur merang.

C.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Jamur merang yang telah dipanen dipindahkan dari keranjang  plastik/rinjing ke tampah. Hal ini bertujuan agar jamur mendapatkan aerasi yang baik dan mengurangi kelembaban yang bisa menyebabkan kerusakan jamur.
2.    Bagian pangkal jamur atau media tanam yang terbawa dipotong dengan pisau tajam.
3.    Kotoran yang masih terbawa dihilangkan dengan kuas bersih.
4.    Jamur merang ditimbang dengan bobot sesuai kebutuhan/permintaan pasar (kisaran ½  - 5 kg per kemasan).
5.    Jamur merang dikemas menggunakan waring plastik dan siap dipasarkan.



X. PEMBONGKARAN MEDIA TANAM

A.    Definisi dan Tujuan
Kegiatan membongkar media tanam jamur merang dilakukan setelah jamur selesai   dipanen, dengan tujuan membersihkan seluruh bagian kubung dari sisa media kompos.

B.    Informasi Pokok
Persyaratan :
1.    Apabila media tanam sudah tidak berproduksi
2.    Sudah mencapai umur tanam 2 minggu – 1 bulan

C.    Alat, Bahan dan Fungsi

1.    Sekop untuk mengumpulkan kompos jamur yang akan dibuang.
2.    Plastik untuk melapisi lantai kubung agar lantai tidak kotor saat pembongkaran.
3.    Karung/lap digunakan untuk membersihkan rak-rak jamur.
4.    Sapu digunakan untuk menyapu rak-rak jamur dari sisa-sisa kompos.
5.    Pengki  digunakan untuk mengangkut limbah kompos LA ke luar kubung.

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Lantai pada jalan tengah kubung dilapisi plastik hingga pintu masuk.
2.    Dorong media kompos yang paling pinggir ke bagian tengah rak menggunakan sekop, kemudian jatuhkan ke lantai yang telah dialasi plastik.
3.    Setelah kompos jatuh seluruhnya, rak dibersihkan menggunakan sapu dan dilap hingga bersih.
4.    Keluar kompos dari dalam kubung dengan menggunakan pengki dan tumpuk di tempat pembuangan/penampungan kompos.
5.    Kondisi rak-rak penanaman dan lantai kubung harus bersih dari sisa-sisa kompos/kotoran supaya tidak mengganggu proses budidaya selanjutnya.



XI. PENGOLAHAN MEDIA PASCA TANAM JAMUR

A.    Definisi dan Tujuan
Hasil pembongkaran media Limbah Aren (VOLVAC AREN) tanam jamur atau disebut media pasca tanam jamur adalah bahan organik yang telah mengalami proses pengomposan tidak sempurna. Pengomposan adalah proses penguraian materi organik oleh mikroba secara aerobik dalam kondisi terkendali menjadi produk yang stabil seperti humus. Agar media pasca tanam jamur dapat digunakan sebagai kompos organik untuk tanaman pertanian, perlu dilakukan proses pengomposan lebih lanjut.

Tujuannya adalah melakukan proses pengomposan secara aerobik terhadap media pasca tanam jamur hingga diperoleh unsur-unsur hara makro dan mikro yannnnng sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan kesuburan tanaman.

B.    Informasi Pokok
Persyaratan :
1.    Pengomposan dalam kondisi aerob selama 6 sampai  7 minggu
2.    Suhu pengomposan harus mencapai suhu termofilik (55⁰C) selama dua minggu, agar serangan dan bakteri pathogen mati.
3.    Pengomposan dilakukan di bawah naungan yang  terlindung dari panas matahari dan hujan.
4.    Bahan baku pengomposan disusun berlapis-lapis membentuk tumpukan ke atas setinggi 1,3 – 1,5  m, lebar 2,5 – 3,0 m dan memanjang minimal 3,0 m (windrow).

C.    Alat, Bahan, dan Fungsi
1.    Garu untuk membuat tumpukan kompos
2.    Sekop untuk membantu membalikkan kompos
3.    Pompa air untuk menyediakan kebutuhan air
4.    Gerobak dorong untuk mengangkut media ke lokasi pengomposan
5.    Timbangan untuk penimbangan kompos
6.    Termometer untuk mengukur suhu pengomposan
7.    Ayakan kompos untuk memperoleh ukuran partikel kompos Yang diinginkan. Ukuran lubangn ayakan adalah 10 mm, 15 mm, dan 25mm.
8.    TUPG2(puc) adalah limbah cair yang dihasilkan dari proses pengomposan.puc mengandung berbagai mikroorganisme dari Actinomycetes dan fungi. Puc yang ditampung dapat digunakan untuk menyiram tumpukan komposan.
9.    Ruang pengomposan merupakan ruang yang beratap dan berlantai cukup luas untuk proses pengomposan.
10.    Ruang pengayakan adalah ruangan untuk pekerjaan pengayakan kompos dan pengepakan.

D.    Prosedur Pelaksanaan
1.    Angkut media pasca tanam jamur dari kubung ke area pengomposan yang telah disiapkan.
2.    Pisahkan LA dari bahan lainnya.
3.    Atur dan tumpukkan kembali LA membentuk ketebalan tertentu kemudian letakkan bahan lainnya tadi di atasnya dan tumpuk lagi lapisan LA berturut-turut hingga mencapai ketinggian 1,3 – 1,5 m, lebar 2,5 – 3 m, dan memanjang minimal 3,0 m sesuai dengan jumlah dan kondisi ruangan.
4.    Proses pengomposan berjalan apabila pada minggu pertama dan kedua suhu kompos meningkat, biasanya berada di atas 55⁰C. Pertahankan suhu 55 – 70 ⁰C selama 2 minggu dengan mengatur pembalikan.
5.    Balikkan tumpukan secara reguler, yaitu 1 – 2 kali seminggu. Pembalikan tumpukan dilakukan dengan cara digulirkan ke sebelah sisi kiri atau kanan, Yaitu menggulirkan bagian atas tumpukan hingga bagian bawah tumpukan pertama berada di bagian atas tumpukan yang baru.
6.    Siram tumpukan yang baru dibalikkan itu dengan lindi atau air bersih yang disemprotkan menggunakan sprayer untuk menjaga kelembaban.
7.    Pembalikan dan penyiraman dilakukan sampai umur pengomposan minggu ke-5.
8.    Satu minggu ke depan dilakukan evaporasi yaitu menurunkan kelembaban kompos hingga 45 %.
9.    Panen kompos, bila suhu telah mencapai kisaran 40⁰C, aroma menyerupai bau tanah, warna coklat kehitaman, bentuk fisik berupa partikel kecil, tinggi tumpukan telah turun hingga 70 %, dan rasio C/N kompos kurang dari 20.
10.    Ayak kompos menggunakan ayakan dengan ukuran lubang sesuai dengan permintaan, yaitu 10 mm, 15 mm, atau 25 mm.
11.    Partikel kompos  kecil dikemas yang besar disisihkan untuk dihancurkan dengan mesin atau dikomposkan kembali dengan proses kompos lainnya.
12.    Partike kompos kecil dikemas menggunakan kantung plastik kedap air. Ukuran kantung plastik yang lazim digunakan berukuran 30 x 25 cm ( 3 kg kompos) atau kantung plastik ukuran 35 x 29 cm (5 kg kompos) atau karung plastik ukuran 90 x 60 cm (35 kg kompos).
13.    Simpan kantung-kantung kompos itu pada gudang yang kondisinya tidak lembab.

0 komentar:

Template by : lathif99.blogspot.com
newport beach houses, newport beach house, makeityourring, Stop korupsi dan suap di Indonesia, perlunya web komunitas event organizer